PASAR SLUMPRING, POTENSI EKONOMI KREATIF WISATA DI KAKI GUNUNG SLAMET

Panggilan desa Cempaka mulai menarik perhatian wisatawan, karena Bupati Tegal Enthus Susmono meluncurkan desa wisata pada Minggu 3/2. Peluncuran ini dilakukan bersamaan dengan Festival Bumijawa, mempromosikan keunikan Pasar Slumpring, eksotis Bukit Bulak Cempaka (BBC) dan keindahan Tuk Mudal.

Kepala desa Cempaka, Abdul Khayyi, pada hari Minggu (7/10), tidak menolak pembangunan desanya sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Tegal, yang mulai berbuah. Bukan hanya sumber daya alam (ASD) desanya yang dikenal luas, tetapi ekonomi populer desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Brebes mulai menyebar.

Daya Tarik Utama Pasar Slumping

Pasar Slumpring, daya tarik utama pariwisata di kota Cempaka, telah semakin menjelaskan kepada kepala desa. Tentu saja, pasar yang menjual berbagai macam sandwich dan spesialisasi kuliner tradisional dari Tegal dan sekitarnya telah berkembang dengan nilai transaksi rata-rata 9-12 juta rupiah.

Pasar Slumpring ini hanya tersedia setiap hari Minggu antara 07:00 dan 12:00 WIB. Sekarang, mereka yang menjual telah mencapai 30 orang. Dari awal, hanya ada 9 pedagang, “kata Abdul Khayyi.

Keunikan pasar Slumpring membuatnya semakin menarik bagi wisatawan. Antara lain, penjual menyimpan produk di bawah tanaman bambu tebal, selama proses pembelian dan penjualan, pedagang dan pembeli juga menerima musik bambu yang disajikan oleh remaja lokal. Mereka adalah anggota kelompok musik Amoeba, yang memainkan alat musik tanaman berbunga seperti angklung, kentongan, seruling dan lain-lain.

Model transaksi, tambah Kades, telah mengadopsi sistem perdagangan lama dengan koin yang juga terbuat dari bambu. Kadades menjelaskan, setiap mata uang bernilai Rp. 2.500. Rinciannya adalah Rp 2.000,00 untuk keuntungan pedagang, sisanya Rp 500 dikirim ke kelompok kesadaran wisata Cadaraka (Pokdarwis). Slumpring sendiri berasal dari nama kulit bambu yang menutupi bambu rosan, biasanya berwarna coklat muda.

Pokdarwis, kata kepala desa, merupakan perpanjangan dari administrasi desa Cempaka sebagai embrio bisnis yang dimiliki oleh desa (Bumdes), yang akan dipatenkan akhir tahun ini. Untuk Pokdarwis, dana dibesarkan untuk membiayai pembangunan fasilitas dan pengembangan fasilitas wisata di kota Cempaka. Semuanya dilakukan secara mandiri karena ia belum menerima bantuan dari Kabupaten Tegal atau pemerintah provinsi Jawa Tengah.

Presiden Pokdarwis Cempaka, Mas Ikhsanudin, mengakui bahwa sangat penting untuk melatih masyarakat agar sadar akan pariwisata di wilayah mereka. Dia ingat pertentangan kiai dan ulama ketika dia hendak menciptakan tujuan wisata di sekitar mata air Tuk Mudal. Para pemimpin agama takut bahwa ini bahkan dapat menyebabkan ketidakpatuhan potensial lebih lanjut.

Akhirnya, difasilitasi oleh pemerintah desa, Ikhsanudin mengatakan, kunjungan dilakukan ke Ponggok Umbul di desa Ponggok, Polanharjo, Kabupaten Sleman, tiga tahun lalu. Perwakilan RT, pemuka agama, masyarakat dan pemuda, serta religius yang berpartisipasi dalam studi banding, menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata dapat benar-benar meningkatkan kehidupan dan ekonomi penghuninya.