LANGKAH INDONESIA DALAM REALISASI EKONOMI

Ekonomi kreatif menjadi era ekonomi baru di mana informasi, pengetahuan dan kreativitas adalah faktor utama produksi negara. Ini juga merupakan dampak dari struktur ekonomi dunia yang mempercepat transformasi teknologi serta evolusi mode produksi dan konsumsi. Indonesia dikatakan memiliki kekayaan budaya dan alam yang melimpah yang mengilhaminya dalam pengembangan ekonomi kreatif. Kualitas sumber daya manusia, terlepas dari beberapa faktor pendukung, adalah kunci bagi ekonomi kreatif.

Pengembangan ekonomi kreatif relevan untuk pembangunan jangka panjang untuk menjadikan Indonesia mandiri, maju, adil dan makmur. Dengan menerapkan ekonomi kreatif di semua bidang kehidupan, bonus demografi Indonesia dapat diubah menjadi orang-orang kreatif seperti karakter utama.

Beberapa langkah dari realisasi ekonomi kreatif

Indonesia memiliki empat tonggak jangka menengah, yang berfokus pada realisasi ekonomi kreatif, fase (2005-2009) meluncurkan rencana untuk pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Periode (2010-2014), yang bertujuan memperkuat institusi dan meningkatkan daya saing dengan memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Periode (2015-2019), peningkatan berkelanjutan daya saing ekonomi kreatif di tingkat nasional dan global. Dan periode (2020-2024) mengembalikan daya saing, serta kualitas hidup orang Indonesia yang setara, mandiri dan efektif.

Indonesia akan memiliki 274 juta penduduk pada tahun 2025. Namun, ekonomi kreatif membutuhkan sumber daya yang kreatif dan berkualitas, kesetaraan jender, untuk meningkatkan daya saing bangsa. Sulit untuk menciptakan sumber daya manusia yang kompeten, bukan hanya tugas pemerintah, intelektual, lingkungan dan keluarga.

Untuk menghadapi tantangan ini, ada beberapa faktor yang mendukung, seperti keamanan yang mendukung, cara-cara untuk mendukung pendidikan dan kesejahteraan kesehatan, ketersediaan sumber daya alam dan budaya, beragam industri kreatif, dan kompetitif, ketersediaan sumber daya. pembiayaan yang mudah diakses dan spesifik, ketersediaan infrastruktur dan teknologi. Sesuai dan dengan dukungan lembaga dan pemerintah.

Seiring dengan semakin dominannya sains dan teknologi, sumber daya harus selaras dengan tuntutan global kerja kreatif. Era digital memungkinkan terciptanya hubungan antara pencipta semua bangsa dan semua budaya. Kondisi ini akan menciptakan keragaman kreativitas. Ruang publik juga bisa menjadi tempat berekspresi, kondisi ideal untuk memancarkan semua potensi kreativitas yang harus diakui dan dilindungi oleh negara. Tetapi kreativitas harus didasarkan pada pemahaman nilai, sehingga Anda dapat memahami aspek positif dan negatif, bukan hanya pekerjaan.

Hingga 2025, Indonesia, berkaitan dengan perwujudan ekonomi kreatif, harus fokus pada kelompok industri kreatif, yang mencakup bidang arsitektur. Desain; bioskop, video dan fotografi; seni; mode kuliner; Musik; iklan; permainan interaktif; publikasi; penelitian dan Pengembangan; seni pertunjukan; Seni ยบ; teknologi Informasi; serta televisi dan radio (siaran). Indonesia saat ini memiliki warga yang luar biasa dan berbakat di berbagai sektor industri kreatif. Oleh karena itu, kegiatan pameran dan publikasi harus dilakukan karena merupakan modal untuk memotivasi orang muda untuk terus bekerja.

Industri kreatif berdasarkan ide, kreativitas, dan pengetahuan yang jika dieksploitasi atau dieksplorasi tidak akan pernah habis, bahkan lebih intens dan tepat. Akibatnya, sektor kreatif adalah sumber daya terbarukan untuk menciptakan ekonomi kreatif. Ini dapat dilakukan melalui bisnis, bisnis, dan produk kreatif berdasarkan keterampilan, pengetahuan, sikap, dan sikap.

Ada prinsip mendasar yang mendasari pengembangan ekonomi kreatif hingga 2025. Ini adalah domain ilmu pengetahuan dan teknologi. Sangat penting untuk mempercepat perkembangan ekonomi kreatif Indonesia. Pemberdayaan sumber daya manusia untuk mendapatkan, mengembangkan dan menggunakan teknologi adalah tujuan utama pemerintah. Meningkatkan literasi mentalitas, dipahami sebagai solusi objektif untuk masalah manusia dan lingkungan, dapat difasilitasi oleh penambahan nilai-nilai identitas budaya.